Jumat, 08 Februari 2013

Sufi yang Ilmuwan Sebagai Pewaris Nabi

Berbagai jurnal dan literatur memuat perdebatan sengit antara sufisme dan filsafat yang sebenarnya merupakan pertengkaran antar orang-orang yang melihat ilmu pengetahuan dan ilmu spriritual sebagai dua kubu yang bertentangan. Beberapa agama bahkan melarang umatnya berpikir karena keimanan - sebagai fakta spiritual - dianggap tidak dapat disentuh sama sekali oleh akal.

Orang-orang tua di dunia bagian timur, khususnya indonesia sebenarnya telah memiliki kebijakan dalam bersikap dan memahami hubungan spriritualisme dengan penalaran. Meraka membuat istilah yang menyatukan keduanya, yaitu "akal-budi". Menyapa saya setuju dan menganggap itu ssebagai sebuah kebijakan (wisdom), merupakan materi yang saya coba jelaskan dalam tulisan ini.

Manusia, bahkan hewan dan jin, memiliki ruh dan jasad. Ruh adalah unsur spiritual dan jasadadalah unsur materi, Mengapa Tuhan menyatukan kedua unsur tersebut di alam dunia ini, hanya dapat kita duga sebagai berikut:

Membatasi Kemampuan Ruh


  • Ruh memiliki kemampuan mandiri yang luar biasa, sehingga Tuhan menganggap perlu membatasinya agar dampak kerusakan - yang diakibatkan oleh pemanfaatan yang tidak bertanggungjawab - tidak cukup besar. 
  • Tuhan menentukan beberapa perbedaan hukum (sunnatullah) yang berbeda antara elemen spriritual dengan elemen fisika.
  • Jasad terdiri dari elemen-elemen yang tunduk pada hukum fisika dengan demikian, bilda ruh dibungkus oleh jasad, maka kemampuan ruh akan terbatasi oleh hukum-hukum fisika tertentu.
  • Untuk tujuan tertentu, dan dengan sangat terbatas, manusia dapat mengakses kemampuan ruh melalui saluran emosi. Maka wajar jika kita melihat fenomena adanya ritual-ritual spiritual yang berputar pada dua hal:
    • Menurunkan atau melemahkan jasmani, misalnya melalui puasa, pernafasan, dan lain-lain. Gerakan-gerakan tertentu juga sering digunakan untuk menurunkan pengaruh fisik terhadap ruh. Proses-proses yang terjadi akan dapat diamati dari perubahan-perubahan fisik yang terjadi di otak dan berpengaruh pada seluruh tubuh.
    • Mengatur fokus perhatian sehingga emosi terkendali dan fokus pada hal tertentu atau cara sebaliknya, tidak fokus pada apa pun.

Memberikan Tantangan Mengolah Fisik/Materi

  • Tuhan ingin menguji mahlukNya dengan memberikan persoalan dan tantangan hidup di alam fisik.
  • Agar mahlukNya dapat berinteraksi dengan alam fisik, maka jasad - yang merupakan bagian dari alam fisik - menjadi penting sebagai alat agar ruh dapat merasakan dan berinteraksi dengan alam fisik sebagaimana yang dikehendakiNya.
  • Bagaimana dengan jin? Jin juga memiliki fisik, sehingga dalam suatu kitab (Al-Quran) terdapat penjelasan bahwa manusia (jasadnya) berasal dari tanah, iblis dari api dan jin dari lidah api. Informasi ni saya anjurkan dikembangkan dengan penelitian unsur-unsur api dan lidah api sehingga kelak ilmu pengetahuan menemukan cara berintraksi secara fisik dengan jin, termasuk cara mengenalikannya jika diperlukan. Kelemahan jin adalah unsur-unsur jasadnya kurang sempurna sehingga kemampuan emosinya lebih menonjol dari pada kemampuan berinteraksi secara fisik. Kesempurnaan manusian dalam konteks ini adalah karena jasadnya dari tanah. Sebagaimana anda ketahui, tanah mengandung hampir semua unsur fisik yang ada di alam semesta. Kondisi itu pulalah yang memberikan kita penjelasan mengenai kemampuan kita saay ini dan mengapa jin menonjol emosinya. Jin menonjol emosinya karena ia harus belajar mengakses ruhnya sebanyak mungkin ketika ingin meningkatkan kemampuannya. Manusia cukup belajar dan berpikir untuk meningkatkan pengetahuannya dan memiliki peluang yang sama untuk meningkatkan kemampuan ruhani sebagaimana jin.

Memanfaatkan Sendok dan Garpu

  • Saya lebih suka menganggap keberadaan ruh dan jasad seperti adanya sendok dan garpu. Kita bisa makan dengan salah satunya akan tetapi akan lebih baik bila menggunakan keduanya.Jangan terperangkap pada kegunaan utama suatu alat melalui eksplorasi dan eksperimen menggunakan beberapa alat. Banyak pemahaman baru mengenai kegunaan suatu alay bila kita mencoba menggunakannya bersamaan dengan alat lain, sebagaimana mesin memadukan berbagai alat dalam satu sistem.

Sumber Perbantahan Spritualisme dan Filsafat

Perdebatan berkepanjangan umumnya terjadi ketika membahas hal-hal yang tidak dapat dibuktikan baik secara logika maupun gejala fenomenanya. Unsur penyebabnya ternyata sesederhana berikut:
  1. Perbedaan metode penalaran yang dipergunakan.
  2. Kelemahan kemampuan memahami pengertian istilah lawan bicara.
  3. Kelemahan kemampuan memahami konteks penjelasan lawan bicara.
  4. Kemampuan nalar salah satu atau keduanya.
  5. Gangguan perspektif.
  6. Gangguan nafsu.
Kecuali unsur pertama, lima unsur lainnya dapat dikatakan sebagai "faktor kejahiliahan" yang dapat mengubah diskusi menjadi perbantahan yang dilarang dalam Ajaran Islam.

Ketika salah satu dari hal di atas diketemukan, saya anjurkan menghentikan diskusi karena akan menjadi perbantahan yang tidak bermanfaat, kecuali mampu memenuhi persyaratan berikut:
  1. Seluruh pihak membatasi diri hanya mengungkapkan pendapatnya tanpa keinginan untuk dipercaya".
  2. Respon dibatasi untuk memperoleh penjelasan yang diperlukan.
  3. Tidak dimaksudkan mengambil kesimpulan.
Lucunya diskusi filsafat atau ilmu lainnya juga sering terjebak menjadi perbantahan karena salah satu dari 6 unsur di atas.

Mungkinkah Pendekatan Nalar Diterapkan untuk Memahami Spritualisme?

Jika kita memandang keduanya laksanaka sendok dan garpu, maka mendekati sprititualisme dengan penalaran logis sama memungkinkannya dengan hal sebaliknya.

Kesimpulan tersebut hanya dapat dijelaskan lebih lanjut bila anda telah mempelajari dan memiliki pengalaman dalam yang memadai dalam spiritualisme dan menguasai penalaran dengan baik. Pembahasan mendalam hanya saya lakukan secara terbatas (personal) karena mencakup berbagai contoh yang tidak layak disajikan untuk publik.

Sufi dan Ilmuwan

Jika anda hanya mempelajari hukum syariah maka anda dapat seorang ahli hukum Islam. Jika anda hanya mempelajari sufisme, maka anda tidak akan pernah menjadi sufi.

Seorang sufi harus memiliki pengetahuan agama dan kemampuan nalar yang baik, tertarik pada langit dan bumi beserta isinya dan suka berpikir sebagaimana bersihnya hati dari nafsu-nafsu yang tak terkendali. Seorang sufi atau bisa juga disebut pelaku spriritualisme Islam adalah seorang filsuf yang mendalami spriritualisme.

Tanpa pengetahuan agama dan landasan nalar yang baik, seseorang yang mencoba sufisme sama saja dengan seorang anak yang mencoba menyeberang di jalan bebas hambatan atau seumur hidupnya tak memperoleh hikmah yang bermanfaat sebagai alat untuk beramal. Maka seorang ahli sufisme pastilah juga seorang ilmuwan.

Banyak pihak yang mungkin tertawa dengan penapat saya di atas karena melihat sufi dari sudut pandang yang sempit, seperti:
  1. Orang  mengikuti suatu tariat.
  2. Orang yang kata, hati dan pikirannya satu.
  3. Orang yang hidupnya semata-mata mengharapkan ridla Allah.
Jika anda memperhatikan proses yang anda lalui, maka anda akan mengenali bahwa kualitas anda berkembang bersama proses rasa dan nalar yang diberikan oleh Allah. Banyak sekali hikmah yang hanya dapat diperoleh memalui kedua proses yang tak terpisahkan tersebut. Banyak pula contoh kesimpulan-kesimpulan konyol di antara mereka yang mencoba sufisme tanpa landasan pengetahuan agama dan nalar yang memadai.

Kecuali ketika Allah menhendki lain, berbagai pengetahuan dan nalar menjadi alat yang kita butuhkan untuk memperoleh hikmah dan mengenali mana yang datang dari Allah dan yang datang dari sumber lain. Rasa saja tidak cukup untuk mengenali bahwa sesuatu itu benar.

Pewaris Nabi

Pewaris Nabi yang maksud bukanlah gelar atau sesuatu yang membanggakan, melainkan suatu beban yang sangat berat. Tidaklah mungkin Allah meningkatkan derajat ilmuwan demikian tinggi jika tidak besar bahaya, kesulitan dan beban yang ditanggungnya.

Ilmu fisik wajib diamalkan dan dikembangkan untuk kemashlahatan semesta dengan berbagai pengorbanannya. Kita saksikan tak seorang ilmuwan pun yang tidak merasakan fasa-fasa kesulitan lahir dan batin sebelum memehami atau menemukan sesuatu.

Ilmu hikmah menuntut proses pembersihan diri, pembentuan watak dan disiplin tinggi dengan bumbu-bumbu ujian berat yang diberikan Allah. Tak sedikit yang dikucikan dan cukup sudah contoh yang harus dihukum mati.

Konsekuensi-konsekuensi berat di atas seringkali tak dilihat sehingga dengan sedikit belajar saja sesorang sudah merasa meningkat derajatnya di hadapan Allah.
Proses pendidikan yang demikian keras secara nalar akan menjadikan seorang sufi menjadi manusia yang berbeda dari manusia pada umumnya. Pencapaian tertentu membuat seorang sufi mengetahui mengapa manusia melaksanakan dosa, mengapa manusia menjadi seperti yang dilihatnya dan memahami bagaimana mengatasinya. Pengalaman-pengalamannya menghadapi diri sendiri sangat bermanfaat bagi umat manusia. Maka tambahan tugas penting menjadi bagaiannya yang baru: "Sampaikan dan amalkan. Bukankah engkau mengerti konsekuensi ilmu yang tidak diamalkan?".  Maka sahlah ia memperoleh beban warisan Nabi.

Jika anda sampai di sana, selamat datang di dunia yang sama dengan pandangan yang berbeda. You were passing the point of no return. You are in the world of no world for you.









3 komentar:

  1. aduh kanda....
    sepertinya abang lebih besar saintisnya dibanding sufinya.......

    ehehehe...
    menurut abang bagaimana penjelasan tentang muzizat,

    seperti membangkitkan orang mati, membelah laut, menyembuhkan orang lumpuh sejak dari kecil, dan muzizat lainnya....

    ^_^

    BalasHapus
  2. Tuhan memiliki hak dan kemampuan mutlak melakukan atau memerintahkan terjadinya sesuatu tapi semua itu selalu dilaksanakan tetap dalam hukum yang ditetapkanNya sendiri. Termasuk hukum fisika dan hukum non fisika.

    Tuhan telah merencanakan terjadinya hal-hal tersebut. Setiap yang berkaitan dengan hukum fisika diatur sedemikian rupa mengikuti hukum fisika sebagimana terjadinya banjir besar di zaman Nuh. Sayang manusia baru dapat memahami setelah bilangan abad, bahkan ribuan tahun.

    Ketepatan antara kejadian dengan alasan suatu peristiwa adalah kecerdasan dan kecermatanNya dalam membuat rencana.

    Mengenai hidup dan mati, itu hal yang mudah bagi Tuhan. Pada dasarnya mukjizat itu terjadi atas perintah Tuhan. Perangkat terjadinya adalah apa-apa yang telah diciptakannya, misalnya Malaikan, Bumi, langit dan lain-lain. Jika dilaksanakan malaikat, malaikat terikat dengan aturan (hukum) yang disebutkan sebelumnya.

    Sebagai manusia modern, kita tak membutuhkan lagi mukjizat untuk mempercayai keberadaan Tuhan. Demikian pula dalam memilih agama, mestinya menggunakan logika dan fakta-fakta sejarah.

    BalasHapus
  3. Boleh ditambah?
    Sufisme seringkali dipahami terlalu sempit, padahal tujuan utamanya adalah mendekatkan diri dengan Allah melalui pembersihan diri. Banyak yang terjebak mengharapkan karomah, padahal harapan tersebut merupakan pintu bagi iblis untuk menyesatkan. Para sufi pasti mengalami pengelaman spiritual tapi sedikit yang mengerti bahwa banyak pengalaman yang seolah-olah pengalaman spiritual padahal hanya proses psikologis biasa.

    BalasHapus