Sabtu, 16 Februari 2013

AUDIT KERANGKA, STRATEGI DAN ARSITEKTUR PENGELOLAAN TIK


Audit lengkap dapat meliputi:

1. Prinsip-prinsip, kebijakan dan kerangka.
2. Proses
3. Struktur organisasi
4. Budaya, etika dan prilaku
5. Informasi
6. Infrastruktur dan Aplikasi Jasa
7. Manusia, keahlian dan kompetensi

Tujuan dan prosedur audit pada bagian ini difokuskan pada kerangka, strategi dan arsitektur pengelolaan TIK, sebagai contoh audit yang meskipun masih berupa pengantar diharapkan dapat memberikan nilai tambah pada praktek audit peserta.

TUJUAN AUDIT


Memastikan dan memberikan rekomendasi sesuai keperluan atas beberapa hal berikut:
  1. “Kerangka Pengelolaan TIK” telah disusun dan ditetapkan sesuai dengan arahan direksi  (kebijakan dan keputusan dalam proses penatakelolaan TIK).
  2. “Strategi Pengembangan dan Pengelolaan TIK” telah disusun dan ditetapkan sesuai dengan “Kerangka Pengelolaan TIK” sedemikian rupa sehingga tujuan stratejik pengelolaan TIK cukup terjamin pencapaiannya.
  3. “Arsitektur TIK” telah disusun dan ditetapkan dengan mempertimbangkan pengaruhnya terhadap pelaksanaan strategi organisasi/korporasi, termasuk efisiensi dan efektifitas pengelolaan TIK.
  • Pemilihan basis teknologi (hardware platform / technology base) dilaksanakan secara hati-hati dan wajar dengan mempertimbangkan optimalisasi biaya layanan TIK, kelangsungan dukungan dari pihak ketiga dan keamanan TIK.
  • Pemilihan “platform” perangkat lunak (software platform) dilaksanakan secara hati-hati dan wajar dengan mempertimbangkan optimalisasi biaya layanan TIK, kelangsungan dukungan dari pihak ketiga dan keamanan TIK.
  • Integrasi data, informasi dan perangkat TIK cukup terjamin mampu melayani kebutuhan operasi organisasi/korporasi.

PROSEDUR AUDIT


Dapatkan kebijakan dan keputusan direksi yang berkaitan dengan penatakelolaan dan pengelolaan TIK. 

Teliti apakah proses penyusunan dan penetapannya dilaksanakan melalui prosedur yang menjamin kecukupan data, informasi dan pertimbangan.
Dapatkan kebijakan dan keputusan manajemen yang berkaitan dengan pengelolaan TIK. . Teliti apakah proses penyusunan dan penetapannya dilaksanakan melalui prosedur yang menjamin kecukupan data, informasi dan pertimbangan.
Teliti apakah “Kerangka Pengelolaan TIK” dan “Strategi Pengelolaan TIK” sejalan dan mendukung pelaksanaan strategi organisasi/korporasi dan penjabarannya dalam kebijakan dan keputusan direksi. . Teliti apakah proses penyusunan dan penetapannya dilaksanakan melalui prosedur yang menjamin kecukupan data, informasi dan pertimbangan.
Teliti apakah Pengelola TIK dan Komisaris memberikan informasi mengenai ketepatan dan peluang pelaksanaan kebijakan dan keputusan direksi.

Teliti apakah kebijakan-kebijakan lain pengelolaan TIK sejalan dan cukup mendukung kebijakan dan keputusan direksi.
Teliti proses penetapan “Arsitektur PengelolaanTIK” dan perhatikan beberapa hal berikut:
  • Pilihan basis teknologi dan platform perangkat lunak sesuai dengan strategi persaingan.:
  • Analisis pengaruh pilihan tersebut terhadap respon pelanggan.
  • Analisis portofolio basis teknologi dan platform perangkat lunak untuk memastikan biaya merespon persaingan yang memerlukan penggantian basis teknologi atau platform perangkat lunak dapat ditekan sampai tingkat yang diinginkan atau cukup memadai untuk merespon persaingan.
  • Pilihan basis teknologi dan platform perangkat lunak didukung oleh ketersediaan pasokan dan pemasok, layanan pemeliharaan dan suku-cadang yang memadai untuk periode tertentu - sesuai umur pemanfaatan yang direncanakan.
  • Penentuan umur pemanfaatan basis teknologi dan platform perangkat lunak ditentukan dengan memperhatikan perkembangan teknologi dan pengaruhnya terhadap biaya layanan TIK.
Dapatkan informasi perangkat TIK baik yang telah dimanfaatkan maupun yang belum digunakan. Teliti dan perhatikan beberapa hal berikut:
  • Keberadaan perangkat TIK yang belum digunakan dengan jumlah dan nilai yang signifikan. Laksanakan prosedur wawancara, analisis, penelusuran dan konfirmasi sesuai keperluan untuk memastikan dampak dan penyebabnya.
  • Keberadaan perangkat TIK yang tidak sesuai dengan basis teknologi atai platform perangkat lunak dengan jumlah dan nilai yang signifikan. Laksanakan prosedur wawancara, analisis, penelusuran dan konfirmasi sesuai keperluan untuk memastikan dampak dan penyebabnya.


Gambaran Teknologi Informasi dan Komunikasi


Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam organisasi dan perusahaan umumnya berkaitan dengan sistem informasi yang terkomputerisasi. Oleh karena itu ada baiknya kita lebih sedikit fokus pada sistem informasi yang menggunakan perangkat TIK.

Komponen TIK umum dikelompokkan sebagai:
  • Perangkat Keras (Hardware), yaitu mesin-mesin yang digunakan, misalnya komputer, router, modem d printer.
  • Perangkat Lunak (Software), yaitu program, baik yang ditempatkan pada server mapun perangkat lainmua.
  • SDM (Brainware).

Untuk keperluan memahami operasinya akan lebih mudah bila dikelompokkan menjadi:
  • Database Server 
  • Jaringan dan Perangkat Komunikasi 
  • Perangkat Klien 
  • Aplikasi

Database

Database seringkali dipadankan dalam Bahasa Indonesia sebagai “Pangkalan Data”, merupakan kumpulan data.

Database erat kaitannya dengan Database Engine yaitu aplikasi yang dirancang untuk menyiimpan, mengambil dan mengubah data. Aplikasi ini umumnya ditempatkan pada salah satu server. Databas Engine yang saat ini populer adalah Microsoft SQL-Server, SQL-Server, SQLLite, Oracle.

Database Server merupakan komputer yang dapat memuat:
1. DS = Data Storage (alat penyimpan data)
2. DE = Database Engine (aplikasi penyimpan dan pengolah data)
3. SA = Server Application (aplikasi server), yaitu aplikasi yang ditempatkan di server.
4. Data Service (aplikasi layanan data) yaitu aplikasi server yang menjadi perantara antara Database Engine dengan Aplikasi lainnya.

Data Storage, Database Engine dan Data Service dapat berada dalam satu server atau server yang berbeda.
Aplikasi tidak selalu harus melalui “data service” untuk memberi perintah pada “database engine”, dengan demikian terdapat alternatif hubungan database sebagai berikut:

1. One Tier : Database Engine  Aplikasi
2. Two Tiers : Database Engine  Data Service  Applikasi
3. Three Tiers : Database Engine  Data Service  Data Service  Applikasi





Saat ini sudah umum digunakan lebih dari dua data service sehingga disebut sebagai n-tiers. Perkembangan tersebut terjadi sebagai upaya peningkatan keamanan data melalui pembatasan akses ke database engine.

Pengembangan lebih rumit lagi adalah dengan membedakan aplikasi server yang melayani aplikasi berdasarkan (kombinasi dari):
Jenis Perintah ke Database Engine(SQL Type)
Hak akses (Access Right)
Aplikasi
Jenis Jaringan (Public, Private, Dedicated)
Perangkat

Jumlah lapisan  perantara (tiers) antara database engine dengan aplikasi klien tidak selalu menunjukkan mutu pengamanan data.

Jaringan dan Perangkat Komunikasi


Konfiguasi jaringan komunikasi sangat beragam, akan kita perlu memperhatikan pengelompokan yang berpengaruh pada pengembangan aplikasi (program), yaitu:
1. Web-Based (Jaringan Berbasis Web)
2. Non-Web-Based (Jaringan Lainnya)

Jaringan berbasis web tidak hanya jaringan global yang disebut “INTERNET” sebagaimana yang kita gunakan ketika memanfaatkan fasilitas yahoo-mail atau gMail, melainkan juga dapat dikembangkan untuk jaringan terbatas dengan sebutan “INTRANET”.

Keuntungan pemanfaatan jaringan berbasis web yang perlu dipertimbangkan antara lain:
Dapat diakses dimana saja dan kapan saja.
Memungkinkan satu aplikasi digunakan oleh pengguna tak terbatas karena sebagian besar aplikasi ditempatkan pada server.
Kemudahan pengelolaan dan pemeliharaan aplikasi.
Konsekuensi yang perlu dipertimbangkan antara lain:
Kemudahan akses dari perangkat apa saja memerlukan pengamanan tersendiri.
Akses fisik ke server sangat membahayakan karena aplikasi mudah dibaca dan diubah, sebagai akibat jarangnya sistem web yang menerapkan kompilasi aplikasi server.
Server perlu diamankan sedemikian rupa untuk mencegah akses pengguna pada aplikasi server.

Sistem saluran komunikasi pun jarang menerapkan sistem tunggal melainkan kombinasi dari beberapa sistem, misalnya:
Sistem kabel dan serat optik.
Sistem tanpa kabel (wireless)
o Wifi
o CDMA
o WCDMA
o HSDPA
Pemanfaatan Jaringan Telepon.
Pemanfaatan Jaringan Listrik.
Pemanfaatan Satelit.
Pemanfaatan Microwave.

Apa pun kombinasinya, diperlukan:
Pengamanan data dan informasi yang dikirimkan agar tidak mudah diakses dan dibaca atau dimanipulasi.
Pemampatan kode informasi (enkripsi dan deskripsi).

Perangkat Klien


Perangkat klien dapat berupa komputer, smartphone atau peralatan khusus yang dirancang untuk suatu sistem informasi.
Aplikasi dalam perangkat klien dapat berupa:
Browser
Browser Pluggins
Aplikasi yang Dirancang Khsusus
Aplikasi Cilent’s Database
Penjelasan lebih lanjut mengenai hal-hal diatas akan dibahas pada bagian Aplikasi.

 Aplikasi


Pada sistem informasi yang menggunakan jaringan web (web-based system) aplikasi memiliki pilihan berikut:
Aplikasi Browser, yaitu aplikasi yang dapat dijalankan melalui Browser, misalnya Internet Explorer, Chrome, Safari atau Mozilla.
Aplikasi khusus yang dirancang mampu mengakses jaringan web.
Aplikasi Browser pun dapat dirancang:
Full Server Application. Sepenuhnya menggunakan aplikasi server dengan konsekuensi operasi dan proses dilaksanakan server. Pada pilihan ini, halaman situs hanya memuat html (hyper-text mark-up language) yang dapat disisipi data dan informasi. 
RIA = Rich Internet Application, yaitu menempatkan sebagian program pada halaman situs sehingga dapat dieksekusi oleh perangkat klien.

Server Application


Selain database engine dan web engine, kita dapat mengembangkan aplikasi server untuk:
Menyusun rangkaian perintah pada Database Engine.
Menyusun dan mengirimkan html.
Mengembangkan aplkiasi layanan data (data sevice).

Bahasa yang populer untuk menyusun “server script” adalah PHP, ASP dan JSP. ASP digunakan untuk menyusun aplikasi web dengan platform Microsoft sedangkan JSP untuk platform Java dan Oracle. PHP umum digunakan untuk platform linux.

Perkembangan html menjadi Html5 merupakan indikator semakin pentingnnya RIA bukan hanya karena tampilannya lebih menarik, melainkan juga memungkinkan:
Pembagian sebagian beban proses dari server ke perangkat klien.
Pelaksanaan operasi offline (tanpa koneksi ke server).

Pengembangan RIA dapat memanfaatkan:
Javascript yang kini telah didukung lebih baik oleh Html5.
Java FX yang berbasis Java.
Silverlight dari Microsoft.
Flash dari Adobe.

Tugas Kelompok

1. Diskusikan mana yang lebih baik, sistem informasi yang memanfaatkan web-based atau yang bukan? Jelaskan alasanya.
2. Diskusikan apakah aplikasi atau sistem informasi yang ada di perusahaan/unit anda memungkinkan akses pihak yang berwenang sehingga risiko pengubahan data yang tidak diinginkan dapat terjadi.


SQL / Standard Querry Language

SQL merupakan bahasa standar yang digunakan untuk memberikan perintah pada hampir semua Database Engine, meskipun beberapa platforms memiliki keunikan. Database Engine yang baik umumnya mendukung standar ANSI sehingga jika kita tidak menggunakan fasilitas unit masing-masing platform, dapat diterapkan pada seluruh database engine yang baik.

Sejalan dengan keuntungan memiliki kompetensi menggunakan Database Engine, auditor perlu mempelajarinya dengan alasan:
Auditor perlu memahami perintah-perintah SQL yang berbahaya dan mendeteksi kemungkinan perintah tersebut dapat dilaksanakan tanpa melalui aplikasi dan/atau oleh pihak yang tidak berwenang.
Database Engine menawarkan peningkatan efisiensi dan efektifitas pelaksanakan prosedur yang memanfaatkan data secara signifikan.

Meskipun anda menggunakan ACL, GAS atau perangkat EDP Audit lainnya, pemahaman mengenai SQL masih diperlukan.

Pemanfaatan ACL dan GAS mampu meningkatkan efisiensi dan efektifitas audit. Aplikasi tersebut juga telah teruji keamanannya sehingga auditor dicegah untuk mengubah data produksi (data yang digunakan organisasi/perusahaan). Namun demikian, pemahaman terhadap SQL seringkali bermanfaat untuk dapat menggunakan perangkat yang ada atau ketika kita ingin melaksanakan prosedur yang tidak didukung oleh ACL atau GAS.

Syarat utama yang harus dipenuhi auditor adalah “tidak mengubah data produksi”. Berkenaan dengan hal tersebut, auditor dapat meminta (download) tabel-tabel tertentu untuk diuji lebih lanjut.

Pada bagian ini, kami ingin membekali anda dengan kemampuan tersebut yang dapat diperoleh dari pemahaman terhadap SQL.

Perangkat Database Engine yang kita gunakan untuk mempelajari SQL yang dipilih adalah Microsoft Access dengan pertimbangan:
Umumnya terdapat di komputer yang anda miliki sebagaimana anda biasa menggunakan Microsoft Office.
Memenuhi kebutuhan untuk memahami SQL.
Memiliki fitur yang hampir sama dengan Microsoft SQL Server.
Memiliki fitur untuk memudahkan pengembangan SQL secara visual.

Anda diharapkan membawa komputer dan memiliki Microsoft Access atau Open Office (versi java open source yang kompatible dengan Microsoft Office) pada sesi ini.

Silahkan copy file ContohSQL.accdb terlampir.

SQL Type

SQL Type adalah jenis-jenis perintah SQL yang terdiri dari:
1. INSERT
2. UPDATE
3. DELETE
4. CREATE
5. DROP

Diantara kelima jenis di atas, kita lebih mendalami perintah INSERT, UPDATE dan DELETE karena perintah CREATE dan DROP mudah dilakukan dengan fasilitas Microsoft Access.

Insert

Sintaks perintah INSERT:
INSERT INTO target [(field1[, field2[, …]])] [IN externaldatabase] SELECT [source.]field1[, field2[, …] FROM tableexpression
atau
INSERT INTO target [(field1[, field2[, …]])] VALUES (value1[, value2[, …])

Untuk memudahkan disampaikan diagram perintah berikut:





Nama Database bersifat opsional. Pada contoh-contoh berikut tidak disertakan karena berada dalam satu database.

Contoh:
INSERT INTO TblPeserta (ID, Nama, Email, Telepon) VALUES ("2", "Abdul Hamzah",  "amir_h@gmailcom", "08150000000");

Jika ID pada tabel diatur (setting) sebagai “autonumber”, ID tidak perlu disertakan.
Apabila perintah tersebut dieksekusi atau dikirimkan ke database engine, maka database engine akan menambahkan isi tabel yang bernama TblPeserta.

Update

Sintaks perintah UPDATE:
UPDATE table SET newvalue WHERE criteria;
Untuk memudahkan kami sampaikan diagram perintah berikut:



Nama Database bersifat opsional. Pada contoh-contoh berikut tidak disertakan karena berada dalam satu database.

Contoh:
UPDATE TblPeserta SET Nama = "Nurhasanah",  Telepon = "08150000000" WHERE ID = “2”;

Jika ID pada tabel diatur (setting) sebagai “autonumber”, ID tidak perlu disertakan.
Apabila perintah tersebut dieksekusi atau dikirimkan ke database engine, maka database engine akan menambahkan isi tabel yang bernama TblPeserta.

Delete

Sintaks perintah DELETE:
DELETE [table.*]     FROM table     WHERE criteria
Untuk memudahkan disampaikan diagram perintah berikut:



Contoh:
DELETE * FROM TblPeserta WHERE ID = '2';
Apabila perintah tersebut dieksekusi atau dikirimkan ke database engine, maka database engine akan menghapus record (baris)  TblPeserta yang memiliki nilai ID = “1”.

Create

Perintah CREATE dapat digunakan untuk membuat database, tabel, kolom, index dan lain-lain. 
Membuat Tabel dengan SQL Create
Sintaksnya sebagai berikut:

CREATE [TEMPORARY] TABLE table (field1 type [(size)] [NOT NULL] [WITH COMPRESSION | WITH COMP] [index1] [, field2 type [(size)] [NOT NULL] [index2] [, …]] [, CONSTRAINT multifieldindex [, …]])

Yang ada perlu ketahui dari sintaks di atas saat ini adalah:
TEMPORARY akan mengakibatkan obyek yang dibuat bersifat sementara.
NOT NULL akan menyaratkan suatu field harus diisi.
WITH COMPRESSION / WITH COMP membuat isi field (kolom) terkompresi (dimampatkan)
CONSTRAINT memuat persyaratan tertentu (belum perlu kita dalami saat ini).
Index membuat field terindeks.

Contoh:
CREATE TABLE TblNilai(IDNilai CHAR(20), IDPeserta CHAR(25),NILAI SINGLE);

Drop

Perintah DROP digunakan untuk menghapus dengan sintaks:
DROP {TABLE table | INDEX index ON table | PROCEDURE procedure | VIEW view}

Contoh:
DROP TABLE TblNilai;


Pendalaman lebih lanjut akan menggunakan MySQL dan disajikan tersendiri.






IT Governance

Penatakelolaan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dapat kita pahami sebagai proses stratejik yang menentukan bagaimana TIK dikelola. IT Governance merupakan bagian dari Corporate Governance dengan demikian dapat pula dikatakan sebagai implementasi GCG (Good Corporate Governance) dalam pengelolaan TIK.

Gambaran implementasi spesifiknya dapat diwakili oleh 5 Prinsip dan 7 Faktor (enabler) yang dikembangkan COBIT:

5 PRINSIP PENATAKELOLAAN TIK:

1. Meeting Stakeholder’s Needs (Memenuhi Kebutuhan Stakeholders).
2. Covering The Enterprise End-to-End (Mencakup seluruh bagian korporasi).
3. Applying a Single Integrated Framework (Penerapan kerangka yunggal yang terpadu).
4. Enabling a Holistic Approach (Memungkinkan penerapan pendekatan secara holistik).
5. Separating Governance from Management (Pemisahan penetakelolaan dari pengelola).

Kelima prinsip di atas menunjukkan persyaratan Good IT Governance sebagai implementasi spesifik GCG dalam TIK. Agar kelima prinsip tersebut dapat diterapkan, diperlukan pengaturan 7 faktor penerapan (enabler) berikut:

7 FAKTOR PENERAPAN (ENABLER)

1. Prinsip-prinsip, kebijakan dan kerangka.
2. Proses
3. Struktur organisasi
4. Budaya, etika dan prilaku
5. Informasi
6. Infrastruktur dan Aplikasi Jasa
7. Manusia, keahlian dan kompetensi

Ketujuh faktor di atas menunjukkan kewajiban organ utama untuk melaksanakan pengembangan kebijakan, pengambilan keputusan dam pemantauan penerapannya.

Pemisahan antara governance (penatakeolaan) dengan management (pengelolaan), tampak dalam gambaran proses masing-masing sebagai berikut:

PROSES PENATAKELOLAAN

Proses penatakelolaannya sendiri digambarkan secara sederhana sebagai “Evaluate, Direct and Monitor” (mengevaluasi, mengarahkan dan memantau) dengan tujuan sebagai berikut

1. Memastikan Kerangka Penatakelolaan TIK, Pengaturan (setting) dan Pemeliharaannya (ensure governance framework, setting and maintenance).
2. Memastikan manfaat TIK (ensure benefit delivery).
3. Memastikan optimalisasi risiko (ensure risk optimisation).
4. Memastikan optimalisasi sumberdaya (ensure resource optimisation).
5. Memastikan tyransparansi terhadap stakeholder (ensure stakeholder transparency).

Proses pengelolaan TIK dikelompokkan sebagai:

1. Align. Plan and Organize (Menyesuaikan dengan atau penjabaran tata kelola TIK, merencanakan dan mengorganisasi)
2. Build, Acquire and Implement (Membangun, mengadakan dan menerapkan)
3. Deliver, Service and Support (Memberikan jasa dan dukungan)
4. Monitor, Evaluate and Assess (Memantau, mengevaluasi dan menilai)

Rincian dan penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada Bab V mengenai Proses Pengelolaan TIK.

PENGELOLAAN TIK

COBIT mengelompokkan proses pengelolaan TIK (IT Management Process) sebagai berikut:

1. Align. Plan and Organize (Menyesuaikan dengan atau penjabaran tata kelola TIK, merencanakan dan mengorganisasi)
2. Build, Acquire and Implement (Membangun, mengadakan dan menerapkan)
3. Deliver, Service and Support (Memberikan jasa, jasa dan dukungan)
4. Monitor, Evaluate and Assess (Memantau, mengevaluasi dan menilai)

ALIGN, PLAN AND ORGANIZE

1. Mengelola Kerangka Pengelolaan TIK (manage the IT management framework).
2. Mengelola Strategi (manage strategy)
3. Mengelola Arsitektur TIK (manage enterprise architecture)
4. Mengelola Inovasi (manage innovation)
5. Mengelola Portofolio (manage portfolio)
6. Mengelola Anggaran dan Biaya (manage budget andcost)
7. Mengelola SDM (manage human resources)
8. Mengelola Hubungan (manage relationships)
9. Mengelola Kesepakatan jasa (manage service agreements)
10. Mengelola Pemasok (manage suppliers)
11. Mengelola Mutu(manage quality)
12. Mengelola Risiko (manage risks)
13. Mengelola Keamanan (manage security)

BUILD, ACQUIRE AND IMPLEMENT

1. Mengelola Program dan Proyek (manage programmes and projects)
2. Mengelola Rumusan Kebutuhan (manage requirement definitions)
3. Mengelola identifikasi dan pengembangan solusi (manage solutions identification and build)
4. Mengelola Ketersediaan dan Kapasitas (manage availability and capacity)
5. Mengelola Peluang Perubahan Organisasi (manage organisational change enabledment)
6. Mengelola Perubahan (manage changes)
7. Mengelola Penerimaan dan Transisi Perubahan dan Penerimaannya (manage change acceptance and transitioning).
8. Mengelola Pengetahuan (manage knowledges)
9. Mengelola Harta (manage assets)
10. Mengelola Konfigurasi (manage configuration)

DELIVER, SERVICE AND SUPPORT

1. Mengelola Operasi (manage operation)
2. Mengelola Permintaan Jasa dan Insiden (manage service request and incidents)
3. Mengelola Permasalahan (manage problems)
4. Mengelola Keberlanjutan (manage continuity)
5. Mengelola Jasa Pengamanan (manage security service)
6. Mengelola Pengendalia Proses Bisnis (manage business process controls)


MONITOR, EVALUATE AND ASSESS

1. Memantau, mengevaluasi dan menilai kinerja dan ketaatan, kesesuaian maupun kesejalanannya. [performance and conformance]
2. Memantau, mengevaluasi dan menilai sistem pengendalian internal
3. Memantau, mengevaluasi dan menilai ketaatan terhadap persyaratan eksternal

HUBUNGAN PENATAKELOLAAN DAN PENGELOLAAN TIK

Tujuan penatakelolaan yang sering disebut adalah pemenuhan kebutuhan stakeholder atas optimalisasi nilai. Realisasinya bergantung pada keberhasilan optimalisasi penciptaan nilai (value creation).

Jika dikaitkan dengan TIK maka kita dapat menemukan tiga tujuan yang perlu diperhatikan:

1. Realisasi manfaat.
2. Optimalisasi risiko.
3. Optimalisasi sumberdaya.

Tujuan-tujuan tersebut perlu dijabarkan secara berjenjang hingga ke unit dan bagian proses terkecil. Jenjangnya dapat digambarkan sebagai:

• Tujuan utama/stratejik organisasi (enterprise goals)
• Tujuan pengelolaan TIK (IT-related goals)
• Penjabaran tujuan dalam tujuh faktor penerapan penatakelolaan (enabler)
• Penjabaran pada tingkatan-tingkatan selanjutnya.

ORGANISASI PENGELOLAAN TIK

Pengembangan struktur organisasi pada prinsipnya perlu mempertimbangkan:

• Kelancaran proses/operasi
• Pelaksanaan pemisahan fungsi (segregation of duties)
• Ketersediaan informasi dan kelancarana rusnya.
• Penerapan sentralisasi atau desentralisasi
• Kecukupan tingkat pengendalian pimpinan (control space)

Pada penjelasan berikut perhatian difokuskanpada pemisahan fungsi yang perlu diterapkan dalam organisasi TIK.

Ada 4 fungsi utama pengelolaan TIK yang perlu dipisahkan, yaitu:

1. Application Developement (Pengembangan Aplikasi).
2. Database Administration (Administrasi Database).
3. Computer Operations (Operasi TIK).
4. Information Security (Pengamanan TIK).




Fungsi pengembangan aplikasi perlu dipisahkan dengan fungsi-fungsi lainnya untuk mengurangi risiko data dan informasi karena kemampuan pengembang aplikasi cukup memadai untuk melaksanakan apa saja baik terhadap data maupun aplikasi.

Fungsi administrator database juga perlu dipisahkan dengan fungsi lain karena tugasnya memelihara data dan informasi sehingga pihak lain, termasuk fungsi lainnya, tidak dapat mengakses dan mengubah data dan infomasi penting.

Fungsi operasi TIK, yaitu yang mendukung pelayanan TIK dan bertanggungjawab atas pengoperasian perangkat TIK perlu dipisahkan dengan fungsi-fungsi lainnya agar keamanan data dan pengaturan aksesnya dapat terjamin.

Fungsi pengamanan TIK dipisahkan dengan fungsi-fungsi lain untuk memastikan seluruh fungsi bekerja dan hanya memperoleh akses sesuai dengan wewenangnya.

Dengan dasar tersebut banyak perusahaan mengembangkan organisasi sebagaimana gambaran berikut:

Catatan:

Chief Information Officer (CIO) adalah Pimpinan Unit Pengelola TIK) yang betanggungjawab atas seluruh operasi TIK dari pengembangan hingga pengoperasiannya. Meskipun demikian, CIO tetap hanya dapat memperoleh akses terbahatas baik terhadap perangkat keras maupun perangkat lunak.

Application Development (App.Dev) melaksanakan fungsi mengembangkan aplikasi baru, menguji aplikasi baru dan memelihara aplikasi yang dipergunakan untuk menjamin kecukupan dukungan aplikasi terhadap operasi organisasi.

Application Development digambarkan memiliki atau memisahkan dua fungsi:

• New Application Development (New App. Dev.), yaitu fungsi pengembangan aplikasi.
• Application Maintenance(App. Maintenance), yaitu fungsi pemeliharaan applikasi.

Prinsip lain yang perlu diperhatikan adalah pihak/orang yang memasang (install) aplikasi harus berbeda dengan pemrogram dan pengujinya.

Database Administration (DBA )melaksanakan fungsi mengoperasikan database engine, menjaga integritas data, melaksanakan prosedur-prosedur pengamanan data dan melayani kebutuhan informasi dari database.

Pengembangan aplikasi server berupa dataservice pada beberapa perusahaan dapat dilaksanakan oleah database administrator sepanjang disetujui dan diuji oleh application development. Keamanannya pun sebaiknya melalui verifikasi information security.

Database Administrator perlu dipisahkan dari fungsi pengelolaan TIK lainnya karena memiliki kewenangan mengakses database secara penuh (super user). Demikian pula halnya dengan System Administrator dan Operating System Administrator juga perlu dipisahkan dari fungsi lainnya karena kewenangan aksesnya.

Computer Operation (Com. Operation) melaksanakan seluruh fungsi peroperasian dan pelayanan TIK.
Computer Operation digambarkan memiliki fungsi-fungsi:

• Infrastructure, yaitu pengelolaan dan pemeliharaan infrastruktur perangkat keras, termasuk jaringan komunikasi.
• Data Processing, yaitu pengelolaan operasi pelayanan.
• Help Desk

Information Security Inf.Security) melaksanakan fungsi pengamanan TIK dengan mengelola:

1. Pengembangan sistem keamanan TIK
2. Pemantauan dan respon terhadap intrusi.
3. Pengaturan akses terhadap perangkat keras.
4. Pengaturan akses terhadap perangkat lunak.
5. Pemberian dan penggantian kode sandi.
6. Pemantauan akses terhadap perangkat utama.
7. Pengujian keamanan aplikasi.
8. Pengujian keamanan perangkat keras.

Audit pemisahan fungsi TIK perlu mencakup pelaksanaan prosedur reviu berikut:

• Reviu ats kebijakan dan prosedur pengamanan TIK.
• Reviu atas kebijakan dan prosedur pengelolaan TIK.
• Reviu atas struktur organisasi pengelolaan TIK.
• Wawancara dengan SDM penting TIK termasuk Pimpinan Pengelola TIK (CIO)
• Reviu atas “sample” dokumentasi pengembangan aplikasi.
• Reviu atas “sample” dokumentasi pemeliharaan aplikasi.
• Observasi pemisahan fungsi.
• Verifikasi untuk memastikan apakah programer pemeliharaan bukanlah programer perancang dan pengembangnya.
• Reviu atas akses keamanan untuk memastikan perancang aplikasi asli tidak memiliki akses untuk memprogram untuk kepentingan pemeliharaannya.


Jumat, 08 Februari 2013

Agama Perusahaan

Beberapa pakar menyampaikan kesimpulan hasil penelitiannya bahwa perusahaan-perusahaan yang sukses dan mampu mempertahankan posisinya pada umumnya memiliki "agama" yang dianut oleh modal manusianya.

Agama itu ternyata bukanlah Islam, Yahudi, Kristen, Hindu, Budha atau agama-agama lain yang kita kenal, melainkan satu set perangkat berikut:

  1. Kepercayaan mengenai cara mencapai tujuan bersama.
  2. Norma dan aturan prilaku yang ditaati dan diyakini sebagai syarat tercapainya tujuan bersama.
  3. Kehendak untuk "berdakwah": mengenalkan norma dan prilaku yang diperlukan dan memecahkan permasalahan penerapannya.
  4. Kehendak bekerja sebaik mungkin tanpa perlu pengawasan.
  5. Merasa bersalah ketika melanggar norma dan aturan prilaku.

Bagaimana membangun hal-hal tersebut, silahkan bertanya di sini atau mengikuti pelatihan yang telah disiapkan jika tertarik mendalami.

Pemimpin Bukanlah Pemilik Bawahan

Dengan cara sedikit absurd saya ingin mengajak anda memahami manajemen dalam tulisan ini.
  • Kita melihat betapa banyaknya pemimpin yang membagi tugas, menyuruh ini dan menyusuh itu sehingga seorang peserta latihan berseloroh ketika berdiskusi mengenai pengertian manajemen: "ilmu suruh-suruh".
  • Kita saksikan betapa banyak orang mengejar jabatan ingin menjadi pemimpin dan istri-istri yang membanggakan karir suaminya selalu mengaitkan dengan jabatan dan uang. Cona tanyakan padanya, apakah anda sudah belajar ilmu manajemen?
  • Henry Fayol menjelaskan manajemen melalui perencanaan, pengorganisasian, aktualisasi, pengendalian. Lainnya memperkenalkan perencanaaan, pengorganisasian, aktualisasi, pengarahan, penganggaran. Berbagai pakar merumuskan definisi yang berbeda-berbeda. Tapi tetap saja takmampu mengingkari perlunya merumuskan tujuan, menyusun langkah untuk mencapaikan, mengajak orang lain bersama-sama berusaha, membimbing, memantau dan memutuskan tindakan sesuai keperluan. Lihatlah seberapa besar porsi "suruh-suruh"-nya.
  • Mahatma Gandhi menggerakkan begitu banyak manusia yang bukan bawahannya. Beatles memimpin perubahan musik dan budaya pop tanpa menggunakan anak buah. Bung Tomo membantu mengatur  perang mempertahankan kemerdekaan dengan kata-kata. Para Nabi dan Rasul .... lebih luar biasa. Di manakah bawahan?

Makna Manajemen

Manajemen bukanlah ilmu, melainkan seni yang memerlukan banyak disiplin ilmu sebagaimana seorang Eifel menciptakan karya seni di Paris. 
  • Karena dia seni, kualitasnya sulit ditentukan, mahzabnya banyak dan tidak ada yang ragu mencampur-campur, yang penting hasilnya laku.
  • Hasil manajemen adalah tercapainya tujuan yang ditetapkan tanpa melihat caranya, tapi kalau caranya salah, maka manajer berhadapan dengan hukum seorang diri.
  • Bisa saja cara mengambil keputusan salah memberikan hasil yang baik. Banyak juga yang mengambil keputusan dengan baik hasilnya buruk dan dipecat. Itulah profesi manajemen.
  • Kalau baca buku manajemen, kita akan disajikan berbagai pemikiran yang seringkali bertentangan tanpa panduan apapun untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah. Sebagai seni, penilaian sangat subyektif. Satu-satunya tolok ukur baik atau tidaknya manajemen adalah hasil yang dicapai.
Manajemen dapat dipahami sebagai suatu rangkaian yang memuat perumusan tujuan, perencanaan untuk mencapai tujuan, pelaksanaan pencapaian tujuan, pemantauan pencapaian tujuan dan terakhir: mempertanggungjawabkan semua itu. Lebih rapinya dapat kita susun sebagai berikut:


Manajemen memiliki tiga kegiatan utama:
  1. Perencanaaan
    • Merumuskan tujuan utama
    • Menyusun strategi
    • Merencanakan kegiatan
    • Merencanakan sumberdaya
    • Merencanakan pendanaan
  2. Usaha Mencapai Tujuan
    • Menyiapkan perangkat
    • Menyiapkan manusia
    • Membagi peran
    • Mengendalikan proses
    • Mencatat dan melaporkan
      • Keuangan
      • Kinerja
      • Kondisi
  3. Usaha Minimalisasi Risiko
    • Mengidentfikasi dan memantau risiko
    • Menentukan pencegahan dan penanganan risiko (abate dan mitigasi)
    • Menetapkan kebijakan dan prosedur.
    • Melaksanakan abate dan mitigasi.
    • Memantau perkembangan risiko
    • Mencatat dan melaporkan informasi risiko.
Bagaimana melaksanakan hal-hal di atas, telah saya siapkan pelatihan, konsultasi dan bentuk bantuan teknis manajemen lainnya. Silahkan bagi yang memerlukan dan jangan ragu bertanya di blog ini. 









Sufi yang Ilmuwan Sebagai Pewaris Nabi

Berbagai jurnal dan literatur memuat perdebatan sengit antara sufisme dan filsafat yang sebenarnya merupakan pertengkaran antar orang-orang yang melihat ilmu pengetahuan dan ilmu spriritual sebagai dua kubu yang bertentangan. Beberapa agama bahkan melarang umatnya berpikir karena keimanan - sebagai fakta spiritual - dianggap tidak dapat disentuh sama sekali oleh akal.

Orang-orang tua di dunia bagian timur, khususnya indonesia sebenarnya telah memiliki kebijakan dalam bersikap dan memahami hubungan spriritualisme dengan penalaran. Meraka membuat istilah yang menyatukan keduanya, yaitu "akal-budi". Menyapa saya setuju dan menganggap itu ssebagai sebuah kebijakan (wisdom), merupakan materi yang saya coba jelaskan dalam tulisan ini.

Manusia, bahkan hewan dan jin, memiliki ruh dan jasad. Ruh adalah unsur spiritual dan jasadadalah unsur materi, Mengapa Tuhan menyatukan kedua unsur tersebut di alam dunia ini, hanya dapat kita duga sebagai berikut:

Membatasi Kemampuan Ruh


  • Ruh memiliki kemampuan mandiri yang luar biasa, sehingga Tuhan menganggap perlu membatasinya agar dampak kerusakan - yang diakibatkan oleh pemanfaatan yang tidak bertanggungjawab - tidak cukup besar. 
  • Tuhan menentukan beberapa perbedaan hukum (sunnatullah) yang berbeda antara elemen spriritual dengan elemen fisika.
  • Jasad terdiri dari elemen-elemen yang tunduk pada hukum fisika dengan demikian, bilda ruh dibungkus oleh jasad, maka kemampuan ruh akan terbatasi oleh hukum-hukum fisika tertentu.
  • Untuk tujuan tertentu, dan dengan sangat terbatas, manusia dapat mengakses kemampuan ruh melalui saluran emosi. Maka wajar jika kita melihat fenomena adanya ritual-ritual spiritual yang berputar pada dua hal:
    • Menurunkan atau melemahkan jasmani, misalnya melalui puasa, pernafasan, dan lain-lain. Gerakan-gerakan tertentu juga sering digunakan untuk menurunkan pengaruh fisik terhadap ruh. Proses-proses yang terjadi akan dapat diamati dari perubahan-perubahan fisik yang terjadi di otak dan berpengaruh pada seluruh tubuh.
    • Mengatur fokus perhatian sehingga emosi terkendali dan fokus pada hal tertentu atau cara sebaliknya, tidak fokus pada apa pun.

Memberikan Tantangan Mengolah Fisik/Materi

  • Tuhan ingin menguji mahlukNya dengan memberikan persoalan dan tantangan hidup di alam fisik.
  • Agar mahlukNya dapat berinteraksi dengan alam fisik, maka jasad - yang merupakan bagian dari alam fisik - menjadi penting sebagai alat agar ruh dapat merasakan dan berinteraksi dengan alam fisik sebagaimana yang dikehendakiNya.
  • Bagaimana dengan jin? Jin juga memiliki fisik, sehingga dalam suatu kitab (Al-Quran) terdapat penjelasan bahwa manusia (jasadnya) berasal dari tanah, iblis dari api dan jin dari lidah api. Informasi ni saya anjurkan dikembangkan dengan penelitian unsur-unsur api dan lidah api sehingga kelak ilmu pengetahuan menemukan cara berintraksi secara fisik dengan jin, termasuk cara mengenalikannya jika diperlukan. Kelemahan jin adalah unsur-unsur jasadnya kurang sempurna sehingga kemampuan emosinya lebih menonjol dari pada kemampuan berinteraksi secara fisik. Kesempurnaan manusian dalam konteks ini adalah karena jasadnya dari tanah. Sebagaimana anda ketahui, tanah mengandung hampir semua unsur fisik yang ada di alam semesta. Kondisi itu pulalah yang memberikan kita penjelasan mengenai kemampuan kita saay ini dan mengapa jin menonjol emosinya. Jin menonjol emosinya karena ia harus belajar mengakses ruhnya sebanyak mungkin ketika ingin meningkatkan kemampuannya. Manusia cukup belajar dan berpikir untuk meningkatkan pengetahuannya dan memiliki peluang yang sama untuk meningkatkan kemampuan ruhani sebagaimana jin.

Memanfaatkan Sendok dan Garpu

  • Saya lebih suka menganggap keberadaan ruh dan jasad seperti adanya sendok dan garpu. Kita bisa makan dengan salah satunya akan tetapi akan lebih baik bila menggunakan keduanya.Jangan terperangkap pada kegunaan utama suatu alat melalui eksplorasi dan eksperimen menggunakan beberapa alat. Banyak pemahaman baru mengenai kegunaan suatu alay bila kita mencoba menggunakannya bersamaan dengan alat lain, sebagaimana mesin memadukan berbagai alat dalam satu sistem.

Sumber Perbantahan Spritualisme dan Filsafat

Perdebatan berkepanjangan umumnya terjadi ketika membahas hal-hal yang tidak dapat dibuktikan baik secara logika maupun gejala fenomenanya. Unsur penyebabnya ternyata sesederhana berikut:
  1. Perbedaan metode penalaran yang dipergunakan.
  2. Kelemahan kemampuan memahami pengertian istilah lawan bicara.
  3. Kelemahan kemampuan memahami konteks penjelasan lawan bicara.
  4. Kemampuan nalar salah satu atau keduanya.
  5. Gangguan perspektif.
  6. Gangguan nafsu.
Kecuali unsur pertama, lima unsur lainnya dapat dikatakan sebagai "faktor kejahiliahan" yang dapat mengubah diskusi menjadi perbantahan yang dilarang dalam Ajaran Islam.

Ketika salah satu dari hal di atas diketemukan, saya anjurkan menghentikan diskusi karena akan menjadi perbantahan yang tidak bermanfaat, kecuali mampu memenuhi persyaratan berikut:
  1. Seluruh pihak membatasi diri hanya mengungkapkan pendapatnya tanpa keinginan untuk dipercaya".
  2. Respon dibatasi untuk memperoleh penjelasan yang diperlukan.
  3. Tidak dimaksudkan mengambil kesimpulan.
Lucunya diskusi filsafat atau ilmu lainnya juga sering terjebak menjadi perbantahan karena salah satu dari 6 unsur di atas.

Mungkinkah Pendekatan Nalar Diterapkan untuk Memahami Spritualisme?

Jika kita memandang keduanya laksanaka sendok dan garpu, maka mendekati sprititualisme dengan penalaran logis sama memungkinkannya dengan hal sebaliknya.

Kesimpulan tersebut hanya dapat dijelaskan lebih lanjut bila anda telah mempelajari dan memiliki pengalaman dalam yang memadai dalam spiritualisme dan menguasai penalaran dengan baik. Pembahasan mendalam hanya saya lakukan secara terbatas (personal) karena mencakup berbagai contoh yang tidak layak disajikan untuk publik.

Sufi dan Ilmuwan

Jika anda hanya mempelajari hukum syariah maka anda dapat seorang ahli hukum Islam. Jika anda hanya mempelajari sufisme, maka anda tidak akan pernah menjadi sufi.

Seorang sufi harus memiliki pengetahuan agama dan kemampuan nalar yang baik, tertarik pada langit dan bumi beserta isinya dan suka berpikir sebagaimana bersihnya hati dari nafsu-nafsu yang tak terkendali. Seorang sufi atau bisa juga disebut pelaku spriritualisme Islam adalah seorang filsuf yang mendalami spriritualisme.

Tanpa pengetahuan agama dan landasan nalar yang baik, seseorang yang mencoba sufisme sama saja dengan seorang anak yang mencoba menyeberang di jalan bebas hambatan atau seumur hidupnya tak memperoleh hikmah yang bermanfaat sebagai alat untuk beramal. Maka seorang ahli sufisme pastilah juga seorang ilmuwan.

Banyak pihak yang mungkin tertawa dengan penapat saya di atas karena melihat sufi dari sudut pandang yang sempit, seperti:
  1. Orang  mengikuti suatu tariat.
  2. Orang yang kata, hati dan pikirannya satu.
  3. Orang yang hidupnya semata-mata mengharapkan ridla Allah.
Jika anda memperhatikan proses yang anda lalui, maka anda akan mengenali bahwa kualitas anda berkembang bersama proses rasa dan nalar yang diberikan oleh Allah. Banyak sekali hikmah yang hanya dapat diperoleh memalui kedua proses yang tak terpisahkan tersebut. Banyak pula contoh kesimpulan-kesimpulan konyol di antara mereka yang mencoba sufisme tanpa landasan pengetahuan agama dan nalar yang memadai.

Kecuali ketika Allah menhendki lain, berbagai pengetahuan dan nalar menjadi alat yang kita butuhkan untuk memperoleh hikmah dan mengenali mana yang datang dari Allah dan yang datang dari sumber lain. Rasa saja tidak cukup untuk mengenali bahwa sesuatu itu benar.

Pewaris Nabi

Pewaris Nabi yang maksud bukanlah gelar atau sesuatu yang membanggakan, melainkan suatu beban yang sangat berat. Tidaklah mungkin Allah meningkatkan derajat ilmuwan demikian tinggi jika tidak besar bahaya, kesulitan dan beban yang ditanggungnya.

Ilmu fisik wajib diamalkan dan dikembangkan untuk kemashlahatan semesta dengan berbagai pengorbanannya. Kita saksikan tak seorang ilmuwan pun yang tidak merasakan fasa-fasa kesulitan lahir dan batin sebelum memehami atau menemukan sesuatu.

Ilmu hikmah menuntut proses pembersihan diri, pembentuan watak dan disiplin tinggi dengan bumbu-bumbu ujian berat yang diberikan Allah. Tak sedikit yang dikucikan dan cukup sudah contoh yang harus dihukum mati.

Konsekuensi-konsekuensi berat di atas seringkali tak dilihat sehingga dengan sedikit belajar saja sesorang sudah merasa meningkat derajatnya di hadapan Allah.
Proses pendidikan yang demikian keras secara nalar akan menjadikan seorang sufi menjadi manusia yang berbeda dari manusia pada umumnya. Pencapaian tertentu membuat seorang sufi mengetahui mengapa manusia melaksanakan dosa, mengapa manusia menjadi seperti yang dilihatnya dan memahami bagaimana mengatasinya. Pengalaman-pengalamannya menghadapi diri sendiri sangat bermanfaat bagi umat manusia. Maka tambahan tugas penting menjadi bagaiannya yang baru: "Sampaikan dan amalkan. Bukankah engkau mengerti konsekuensi ilmu yang tidak diamalkan?".  Maka sahlah ia memperoleh beban warisan Nabi.

Jika anda sampai di sana, selamat datang di dunia yang sama dengan pandangan yang berbeda. You were passing the point of no return. You are in the world of no world for you.









Pengembangan Budaya

Author: M.I. Kuncoro

Organisasi yang baik umumnya memiliki budaya yang baik, sementara organisasi-organisasi yang tidak cukup efektif dalam mencapai tujuannya, hampir dapat dipastikan tidak memiliki budaya yang baik. Hal tersebut menunjukan korelasi yang sangat erat antara kinerja organisasi dengan budayanya.

Penelitian-penelitian lebih lanjut melahirkan pendapat bahwa budaya yang merupakan representasi unsur utama lingkungan internal suatu organisasi merupakan unsur penting yang menentukan efektifitas organisasi tersebut dbaik alam mencapai tujuan maupun pengelolaan risiko dan pengendaliannya.

Dalam perencanan stratejik, kita sering tersadar bahwa suatu strategi memerlukan lingkungan internal tertentu. Kesadaran mengenai hal tersebut memunculkan pertanyaan dan tantangan: "Apakah kita dapat memangun dan mengendalikan budaya dalam organisasi kita?". Untuk menjawab tantangan tersebut mari sedikit kita dalami proses terbentuknya.

Budaya Selalu Berproses

Kalau kita amati lebih lanjut, tidak ada satu masyarakat pun yang memiliki budaya yang sama dalam periode waktu tertentu. Budaya, di mana pun dan apa pun labelnya, memiliki satu ciri: "senantiasa berubah dan berproses". Maka tidak salah bila kita melihat budaya sebagai proses. Wajar pula bila ada yang menyimpulkan bahwa budaya dapat dibentuk dan dikendalikan melalui pengendalian prosesnya.

Jika ingin mencari sumber cara membangun dan mengendalikan budaya terbaik, sejarah menunjukkan Nabi-Nabi dan tokoh spiritual atau tokoh masyarakat tertentu mampu mengubah budaya atau membangun budaya baru. bahkan pada banyak kasus, mendorong lahirnya budaya-budaya baru. Bagaimana itu bisa terjadi?

Tujuh Kunci Pengembangan dan Pengendalian Budaya

Kini kita mulai masuk pada proses pengembangan dan pengendalian budaya dengan mengamati atau mempelajari sejarah tokoh-tokoh tersebut. Ada beberapa ciri tokoh-tokoh tersebut yang diduga berperan besar terhadap budaya:

  1. Memiliki satu tujuan utama, yaitu menyelamantkan penganutnya.
  2. Memiliki kharisma kepemimpinan.
  3. Menawarkan norma-norma baru.
  4. Memiliki kemampuan meyakinkan kebenaran norma-norma baru tersebut.
  5. Memiliki kegigihan untuk terus mengajarkan norma-norma baru.
  6. Memiliki keikhlasan untuk membimbing perubahan prilaku dan pembentukan kepribadian. 
Kalau hal-hal tersebut kitra konversi menjadi istilah manajemen, maka akan kita dapatkan:


  1. Fair Objectives, yaitu memiliki tujuan yang mencakup keuntungan bagi organisasi, masyarakat dan individu yang ada dalam organisasi, atau dengan kata lain merumuskan tujuan bersama secara adil..
  2. Trusted Leader-ship, yaitu memiliki kemampuan memimpin dan kharisma. Kharisma masih dapat direduksi dengan ditafsirkan sebagai sebagai kepercayaan.
  3. Develop Behavior Rules, yaitu menetapkan norma etika dan aturan prilaku.
  4. Believed Norms, yaitu melaksanakan proses dan tindakan yang diperlukan untuk meyakinkan manfaat aturan prilaku tersebut diperlukan semua orang untuk memastikan dan melindungi pencapaian tujuan bersama. Tingak tertinggi indikator efektifitasnya adalah kepedulian sebagian besar individu untuk mengawasi individu lainnya karena percaya pelanggarannya akan menggangu kepentingan bersama, terutama kepentingan dirinya.Hal tersebut tentunya hanya dapat dicapai bila rumusan budaya dan norma-normanya dirancang dengan baik.
  5. Continues Process. Proses pengembangan dan pengendalian budaya harus berkelanjutan sejalan dengan pengertian bahwa budaya selalu berproses.
  6. Education, yaitu proses pendidikan dan bimbingan yang dilaksanakan secara sabar dan berkelanjutan. 

Tokoh tokoh tersebut telah menunjukkan kinerja yang luar biasa sementara peluang pengorganisasiannya tidak sebaik organisasi saat ini. Mestinya ilmuwan sekarang merasa malu karena tak mampu menyusun konsep yang efektif dan mengajarkannya hingga korupsi tidak "membudaya" di Indonesia.

Tapi dibalik itu, organsiasi modern dapat meningkatkan efektifitasnya,melalui mekanisme  "pemantauan dan penilaian modal manusia". Dengan demikian kita memperoleh tujuh Kunci:
  1. Fair Objectives
  2. Trusted Leader-ship
  3. Behavior Rule
  4. Believed Norms
  5. Continues Process
  6. Education
  7. Monitoring

Demikian pendahuluannya, silahkan berkomentar atau mengajukan pertanyaan agar kami dapat menentukan tulisan lanjutan yang sesuai dengan kebutuhan anda.