Organisasi yang baik umumnya memiliki budaya yang baik, sementara organisasi-organisasi yang tidak cukup efektif dalam mencapai tujuannya, hampir dapat dipastikan tidak memiliki budaya yang baik. Hal tersebut menunjukan korelasi yang sangat erat antara kinerja organisasi dengan budayanya.
Penelitian-penelitian lebih lanjut melahirkan pendapat bahwa budaya yang merupakan representasi unsur utama lingkungan internal suatu organisasi merupakan unsur penting yang menentukan efektifitas organisasi tersebut dbaik alam mencapai tujuan maupun pengelolaan risiko dan pengendaliannya.
Dalam perencanan stratejik, kita sering tersadar bahwa suatu strategi memerlukan lingkungan internal tertentu. Kesadaran mengenai hal tersebut memunculkan pertanyaan dan tantangan: "Apakah kita dapat memangun dan mengendalikan budaya dalam organisasi kita?". Untuk menjawab tantangan tersebut mari sedikit kita dalami proses terbentuknya.
Budaya Selalu Berproses
Kalau kita amati lebih lanjut, tidak ada satu masyarakat pun yang memiliki budaya yang sama dalam periode waktu tertentu. Budaya, di mana pun dan apa pun labelnya, memiliki satu ciri: "senantiasa berubah dan berproses". Maka tidak salah bila kita melihat budaya sebagai proses. Wajar pula bila ada yang menyimpulkan bahwa budaya dapat dibentuk dan dikendalikan melalui pengendalian prosesnya.Jika ingin mencari sumber cara membangun dan mengendalikan budaya terbaik, sejarah menunjukkan Nabi-Nabi dan tokoh spiritual atau tokoh masyarakat tertentu mampu mengubah budaya atau membangun budaya baru. bahkan pada banyak kasus, mendorong lahirnya budaya-budaya baru. Bagaimana itu bisa terjadi?
Tujuh Kunci Pengembangan dan Pengendalian Budaya
Kini kita mulai masuk pada proses pengembangan dan pengendalian budaya dengan mengamati atau mempelajari sejarah tokoh-tokoh tersebut. Ada beberapa ciri tokoh-tokoh tersebut yang diduga berperan besar terhadap budaya:- Memiliki satu tujuan utama, yaitu menyelamantkan penganutnya.
- Memiliki kharisma kepemimpinan.
- Menawarkan norma-norma baru.
- Memiliki kemampuan meyakinkan kebenaran norma-norma baru tersebut.
- Memiliki kegigihan untuk terus mengajarkan norma-norma baru.
- Memiliki keikhlasan untuk membimbing perubahan prilaku dan pembentukan kepribadian.
Kalau hal-hal tersebut kitra konversi menjadi istilah manajemen, maka akan kita dapatkan:
- Fair Objectives, yaitu memiliki tujuan yang mencakup keuntungan bagi organisasi, masyarakat dan individu yang ada dalam organisasi, atau dengan kata lain merumuskan tujuan bersama secara adil..
- Trusted Leader-ship, yaitu memiliki kemampuan memimpin dan kharisma. Kharisma masih dapat direduksi dengan ditafsirkan sebagai sebagai kepercayaan.
- Develop Behavior Rules, yaitu menetapkan norma etika dan aturan prilaku.
- Believed Norms, yaitu melaksanakan proses dan tindakan yang diperlukan untuk meyakinkan manfaat aturan prilaku tersebut diperlukan semua orang untuk memastikan dan melindungi pencapaian tujuan bersama. Tingak tertinggi indikator efektifitasnya adalah kepedulian sebagian besar individu untuk mengawasi individu lainnya karena percaya pelanggarannya akan menggangu kepentingan bersama, terutama kepentingan dirinya.Hal tersebut tentunya hanya dapat dicapai bila rumusan budaya dan norma-normanya dirancang dengan baik.
- Continues Process. Proses pengembangan dan pengendalian budaya harus berkelanjutan sejalan dengan pengertian bahwa budaya selalu berproses.
- Education, yaitu proses pendidikan dan bimbingan yang dilaksanakan secara sabar dan berkelanjutan.
Tokoh tokoh tersebut telah menunjukkan kinerja yang luar biasa sementara peluang pengorganisasiannya tidak sebaik organisasi saat ini. Mestinya ilmuwan sekarang merasa malu karena tak mampu menyusun konsep yang efektif dan mengajarkannya hingga korupsi tidak "membudaya" di Indonesia.
Tapi dibalik itu, organsiasi modern dapat meningkatkan efektifitasnya,melalui mekanisme "pemantauan dan penilaian modal manusia". Dengan demikian kita memperoleh tujuh Kunci:
- Fair Objectives
- Trusted Leader-ship
- Behavior Rule
- Believed Norms
- Continues Process
- Education
- Monitoring
Demikian pendahuluannya, silahkan berkomentar atau mengajukan pertanyaan agar kami dapat menentukan tulisan lanjutan yang sesuai dengan kebutuhan anda.
Modal adalah manusia dan sumber daya ekonomi. Modal manusia berarti pengikut jadi proses awal menjadi 1. pemimpin adalah mengasah diri sehingga mempunyai keahlian yang unik dan mengasah ketrampilan komunikasi 2. mengumpulkan pengikut sebanyak-banyak, sekarang ini misalnya memakai multi media seperti menjadi youtuber. 3. harus ada pengkaderan didalam kelompok dan melatih kader sejak dini (masih kanak2) 4. kader harus beragama Islam harus mempunyai nama mirip suku jawa atau Arab tapi keturunan jawa dan bisa berbahasa jawa. Itu kira-kira awal modal menjadi pemimpin dengan asumsi pemimpin kelompok tidak mempunyai ego individu. Komentar ini seharus panjang tapi cukup aja ya mudah2an paham maksud saya.
BalasHapusmau nambah apa ya? teruskan saja , say tunggu tulisannya yang baru
BalasHapus